Senin, 11 Oktober 2021

Model Pengembangan Waterfall

 Pengertian Metode Waterfall

Metode waterfall adalah salah satu jenis model pengembangan aplikasi dan termasuk ke dalam classic life cycle (siklus hidup klasik), yang mana menekankan pada fase yang berurutan dan sistematis. Untuk model pengembangannya, dapat dianalogikan seperti air terjun, dimana setiap tahap dikerjakan secara berurutan mulai dari atas hingga ke bawah.


Jadi, untuk setiap tahapan tidak boleh dikerjakan secara bersamaan. Sehingga, perbedaan dari metode waterfall dengan metode agile terletak pada tahapan SDLC -nya. Model ini juga termasuk ke dalam pengembangan perangkat lunak yang terbilang kurang iteratif dan fleksibel. Karena, proses yang mengarah pada satu arah saja seperti air terjun.


Tahapan Model Waterfall :

1. Requirement (Analisis Kebutuhan)

Tahapan metode waterfall yang pertama adalah mempersiapkan dan menganalisa kebutuhan dari software yang akan dikerjakan. Informasi dan insight yang diperoleh dapat berupa dari hasil wawancara, survei, studi literatur, observasi, hingga diskusi.

Biasanya di dalam sebuah perusahaan, tim analis akan menggali informasi sebanyak – banyaknya dari klien atau user yang menginginkan produk beserta dengan kebutuhan sistemnya. Selain itu, juga dapat mengetahui setiap batasan dari perangkat lunak yang akan dibuat.


2. Analisis

Selama tahap kedua dari metode waterfall, sistem akan dianalisis untuk menghasilkan model dan logika bisnis yang akan digunakan dalam aplikasi.

Design. Tahap ketiga ini biasanya mencakup kepentingan desain teknis, seperti bahasa pemrograman, lapisan data, layanan, dan sebagainya. Spesifikasi desain biasanya akan dibuat untuk menguraikan bagaimana logika bisnis yang tercakup dalam analisis akan diimplementasikan secara teknis.


3. Design System (Desain Sistem)

Tahap yang selanjutnya adalah pembuatan desain aplikasi sebelum masuk pada proses coding. Tujuan dari tahap ini, supaya mempunyai gambaran jelas mengenai tampilan dan antarmuka software yang kemudian akan dieksekusi oleh tim programmer.

Untuk proses ini, akan berfokus pada pembangunan struktur data, arsitektur software, perancangan interface, hingga perancangan fungsi internal dan eksternal dari setiap algoritma prosedural. Tim yang mengerjakan tahap ini, biasanya lebih banyak menggunakan UI/UX Designer, atau orang yang memiliki kemampuan dalam bidang desain grafis atau Web Designer.


4. Implementation (Pengerjaan)

Tahapan metode waterfall yang berikutnya adalah implementasi kode program dengan menggunakan berbagai tools dan bahasa pemrograman sesuai dengan kebutuhan tim dan perusahaan. Jadi, pada tahap implementasi ini lebih berfokus pada hal teknis, dimana hasil dari desain perangkat lunak akan diterjemahkan ke dalam bahasa pemrograman melalui tim programmer atau developer.

Di dalam tahap pengembangan, biasanya dibagi lagi menjadi 3 tim yang memiliki tugas yang berbeda. Pertama ada front end (untuk client side), backend (untuk server side), dan full stack (gabungan antara front end dan backend). Selain itu, pada tahap ini juga dilakukan pemeriksaan lebih dalam terkait dengan modul yang sudah dibuat, apakah berjalan dengan semestinya atau tidak.


5. Integration & Testing

Tahap yang keempat, masuk dalam proses integrasi dan pengujian sistem. Pada tahap ini, akan dilakukan penggabungan modul yang sudah dibuat pada tahap sebelumnya. Setelah proses integrasi sistem telah selesai, berikutnya masuk pada pengujian modul.

Yang bertujuan untuk mengetahui apakah perangkat lunak sudah sesuai dengan desain, dan fungsionalitas dari aplikasi apakah berjalan dengan baik atau tidak. Jadi, dengan adanya tahap pengujian, maka dapat mencegah terjadinya kesalahan, bug, atau error pada program sebelum masuk pada tahap produksi. Orang yang bertanggung jawab untuk melakukan testing adalah QA (Quality Assurance) dan QC (Quality Control).


6. Operation & Maintenance (Pemeliharaan)

Tahapan metode waterfall yang terakhir adalah pengoperasian dan perbaikan dari aplikasi. Setelah dilakukan pengujian sistem, maka akan masuk pada tahap produk dan pemakaian perangkat lunak oleh pengguna (user). Untuk proses pemeliharaan, memungkinkan pengembang untuk melakukan perbaikan terhadap kesalahan yang ditemukan pada aplikasi setelah digunakan oleh user.

Jadi, pada intinya model waterfall ini dalam proses pemakaiannya mengikuti prinsip dari air terjun. Dimana setiap pekerjaan akan dilakukan secara berurutan mulai dari atas hingga ke bawah. Hal tersebut yang merupakan karakteristik dari SDLC ini.


Kelebihan Metode Waterfall :

1. Workflow yang jelas

Dengan menggunakan model SDLC jenis ini, mempunyai rangkaian alur kerja sistem yang jelas dan terukur. Masing – masing tim, memiliki tugas dan tanggung jawab sesuai dengan bidang keahliannya. Serta dapat menyelesaikan pekerjaan sesuai dengan alokasi waktu yang telah ditentukan sebelumnya.


2. Hasil dokumentasi yang baik

Waterfall merupakan pendekatan yang sangat metodis, dimana setiap informasi akan tercatat dengan baik dan terdistribusi kepada setiap anggota tim secara cepat dan akurat.

Dengan adanya dokumen, maka pekerjaan dari setiap tim akan menjadi lebih mudah, serta mengikuti setiap arahan dari dokumen tersebut.


3. Dapat menghemat biaya

Kelebihan yang selanjutnya tentu saja dari segi resource dan biaya yang dikeluarkan oleh suatu perusahaan dengan menggunakan model ini. Jadi, dalam hal ini klien tidak dapat mencampuri urusan dari tim pengembang aplikasi. Sehingga pengeluaran biaya menjadi lebih sedikit.

Berbeda dengan metode Agile, yang mana klien dapat memberikan masukan dan feedback kepada tim developer terkait dengan perubahan atau penambahan beberapa fitur. Sehingga perusahaan akan mengeluarkan biaya yang lebih besar daripada Waterfall.


4. Digunakan untuk pengembangan software berskala besar

Metode ini dinilai sangat cocok untuk menjalankan pembuatan aplikasi berskala besar yang melibatkan banyak sumber daya manusia dan prosedur kerja yang kompleks. Akan tetapi, Model ini juga dapat digunakan untuk proyek berskala kecil dan menengah. Tentu saja disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan proyek yang diambil.


Kekurangan dari Metode Waterfall :

1. Membutuhkan tim yang solid

Untuk menggunakan model SDLC ini, tentu saja membutuhkan dukungan dari setiap stakeholders yang ada. Setiap tim harus mempunyai kerja sama dan koordinasi yang baik. Dikarenakan, apabila salah satu tim tidak dapat menjalankan tugas dengan semestinya, maka akan sangat berpengaruh terhadap alur kerja tim yang lain.


2. Masih kurangnya fleksibilitas

Semua tim dituntut untuk bekerja sesuai dengan arahan dan petunjuk yang telah ditetapkan di awal. Sehingga, klien tidak dapat mengeluarkan pendapat dan feedback kepada tim pengembang. Klien hanya dapat memberikan masukan pada tahap awal perancangan sistem perangkat lunak saja.


3. Tidak dapat melihat gambaran sistem dengan jelas

Dengan model waterfall, customer tidak dapat melihat gambaran sistem secara jelas. Berbeda dengan model agile yang dapat terlihat dengan baik meskipun masih dalam proses pengembangan.


4. Membutuhkan waktu yang lebih lama

Proses pengerjaan dengan menggunakan waterfall terbilang cukup lama jika dibandingkan dengan model SDLC yang lain. Karena, tahapan pengerjaan aplikasi yang dilakukan satu per satu membuat waktu yang dibutuhkan menjadi lebih lama. Sebagai contoh, tim developer tidak akan bisa melakukan proses coding jika tim designer belum menampilkan tampilan desain dari aplikasi.


Sumber :

  • https://www.sekawanmedia.co.id/metode-waterfall/amp/
  • https://www.ekrut.com/media/tahapan-metode-waterfall

Senin, 04 Oktober 2021

SUATU PROSES SISTEM INFORMASI PADA SEBUAH PERUSAHAAN

 A. Latar Belakang

    Perkembangan peradaban Teknologi informasi (TI) maupun Sistem Informasi (SI) pada dewasa ini telah membawa dampak perubahan yang sangat besar didalam dunia industri khususnya manufaktur, dengan kecangihan teknologi yang berkembang saat ini dengan sangat cepat dan modern memberikan situasi persaingan antar perusahaan manufaktur baik dengan skala kecil, menengah dan besar saling bersaing menjadi nomor satu. Dalam upaya meningkatkan persaingan antar perusahaan manufaktur sekarang ini di era generasi industri 4.0 tentunya keberadaan TI/SI memberikan dampak dalam model proses bisnis yang lebih efisiensi, cepat, canggih, sehingga produk yang dihasilkan terjaga mutunya karena telah di dukung oleh peranan TI/SI yang sangat canggih dan moderen.

    Tentunya perkembangan dan persaingan antar perusahaan manufaktur dewasa ini yang semakin pesat tergantung pada peranan pemilik/manajemen (stacholder) dalam membuat perencanaan starategis bisnis perusahaan itu sendiri yang melihat bahwa penerapan sistem informasi manufaktur sangat pentinguntuk di implementasikan. PT. ABC merupakan perusahaan manufaktur yang mengolah bahan kedelai menjadi sebuah produk kecap dan telah berkembang dengan pesat merupakan perusahaan domestik, dalam perkembangannya PT. ABC telah memiliki dan menerapkan sebuah sistem informasi manufaktur, tetapi dalam penerapannya masih banyak kendala, diantaranya:

1. Keberadaan penerapan konsep TI/SI di perusahaan Tidak berjalan dengan secara baik, antara pemilik/manajemen (stacholder) dan para karyawan/pengguna (user) kurang memahami tentang penerapandan fungsi dari TI/SI dikarenakan keterbatasan sumber daya manusia (SDM) sangat terbatas dalam penerapan TI/SI tersebut.

2. Dengan keterbatasan pengetahuan terhadap TI/SI memberikan gap antara para pegawai (user) dengan pemilik/manajemen(stacholder),harapan manajemen semua proses bisnis yang dilakukan menggunakan sistem informasi sedangkan para pegawai merasa tidak mampu dalam penerapan sistem informasi dikarenakan banyak sistem aplikasi yang banyak inputnya, sehingga setiap laporan sering berbeda antar divisi yang membuat banyak sekali kekeliruan.

3. Proses bisnis produksi sekarang ini dilakukan secara sistem sederhana dan konvensional/manual,sehingga peranan dari stacholder sangat berpengaruh terhadap kebijakan perusahaan sehingga banyak sistem yang berjalan sering terjadi permasalahan sehingga perlu di buatkan perencanaan sistem informasi yang baik.

    Dengan berkembangnya dunia manufaktur dewasa ini tentunya pemasalahan dalam penerapan suatu sistem informasi manufaktur sangat bisa diterapakan dengan cepat dan mudah sehingga dalam perencanaan penerapan sistem informasi tidak akan mengalami permasalahan antara manajemen dengan pegawai.

    Agar perkembangan industri manufaktur PT. ABC untuk berkembang lebih besar, moderen dan terintegrasi kepada bisnis prosesnya, maka PT. ABC membutuhkan suatu sistem informasi yang sangat baik secara komprehensif secara manajerial yang akuntabel, transparan, fleksibel serta memudahkan, sehingga pihak stacholder dan user harus bisa merencanakan kebijakan strategis sistem informasi manufaktur di PT. ABC, diharapakan dengan penerapan rencana sistem informasi manfaktur yang terintegrasi bisa menghasilkan perencanaan strategis untuk lebih baik untuk stacholder dan user dalam upaya peningkatan mutu produksi dengan melakukan penerapan sebuah model Enterprise Architecture Planning (EAP).

    Arsitektur enterprise adalah kumpulan prinsip metode, dan model yang bersifat masuk akal yang digunakan untuk mendisain dan merealisasikan sebuah struktur organisasi enterprise, proses bisnis, sistem informasi dan infrastrukturnya [1].

    Dalam Enterprise Architecture Planning (EAP), merupakan suatu metode yang digunakan untuk membangun sebuah arsitektur informasi. Menurut Steven H. Spewak, Enterprise Architecture Planning adalah suatu metode pendekatan perencanaan kualitas data yang berorientasi pada kebutuhan bisnis serta bagaimana cara implementasi dari arsitektur tersebut dilakukan sedemikian rupa dalam usaha untuk mendukung perputaran roda bisnis dan pencapaian isi sistem informasi dan organisasi [2].

B. Identifikasi Masalah

Agar dalam pembuatan sebuah sistem manufaktur PT. ABC ini tetap fokus dan berjalan baik dalam implemtasi dengan menggunakan pendekatan metode Enterprise Architecture Planning (EAP), maka harus dibuatkan suatu perencanaan arsitektur sistem informasi untuk mendukung proses bisnis manufaktur agar bisa terintegritas secara menyeluruh dengan baik dan moderen, identifikasi masalah dari perencanaan sistem informasi manufaktur di PT. ABC tersebut diatas, diantaranya:

1. Membuat suatu perencanaan arsitektur sistem informasi yang nantinya akan dijabarkan menjadi arsitektur data, arsitektur aplikasi dan arsitektur teknologi.

2. Membuat suatu rencana kegiatan implementasi/migrasi dalamuntuk penerapan arsitektur-arsitektur tersebut, di dalam sistem informasi enterprise PT. ABC.

3. Agar tidak terjadi permasalahan sistem yang konvensional, maka perlu dibuatkan sebuah penerapan perencanaan sistem manufaktur yang cocok Dengan bisnis proses di PT. ABC.

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang akan dicapai dalam kegiatan penelitian ini, merencanakan suatu model arsitektur sistem informasi manufaktur di PT. ABC dengan penerapkan suatu pendekatan metode perencanaan arsitektur enterprise manufaktur yang sesuai dengan kebutuhan proses bisnis yang sesuai dilakukan oleh PT. ABC saat ini, sehingga dapat diterapkan ke sistem informasi enterprise manufaktur PT. ABC yang hasilnya dapat mendukung maupun menunjang proses bisnis organisasi yang berjalan secara koneksi/terhubung dan memberikan keuntungan dari hasil implementasi arsitektur yang akan dibuat, terhadap proses bisnis strategis sistem informasi, sehingga memberikan nilai tambah organisasi, kemudahan, efisien dan efektif dalam menjalankan proses bisnis organisasi dengan meningkatkan perusahaan manufaktur kecap PT. ABC yang berdaya saing.




SUMBER: https://www.researchgate.net/publication/340518598_Perencanaan_Sistem_Informasi_Pada_Perusahaan_PT_XYZ